• PSB AL MASHUM MARDIYAH
MENGAPA HARUS DI PESANTREN

Oleh: Epul Saipurahman, S.Pd.I*

Kesejukan pagi di SMP T MM
semakin terasa menyirami jiwa, mana kala para insan santri melantunkan kalam
Ilahi dalam kegiatan harian Literasi Al-Qur’an. Selaku guru yang mengajar jam
pertama, tim redaksi memiliki amanah untuk turut serta menemani siswa/siswi
yang sedang mengaji di Musholla SMP T MM.

 

 

Di serambi musholla, tim
redaksi sengaja memberi Isyarat kepada Ust. Epul Saipurahman, S.Pd.I yang
sedang ikut memantau kegiatan pagi tersebut. Setelah beliau menghampiri, tim
redaksi sengaja bertanya hal yang sangat menarik tentang kaum sarungan.

 

 

Sembari menyunggingkan
senyuman, Asbid. Kurikulum tersebut menunjukkan rasa bangga tak terhingga
ketika ditanya tentang santri. Ia sangat menunjukkan rasa kagumnya terkait
kemandirian seorang siswa yang ada di boarding school.

 

 

Tentang kemandirian, di
usia belia bahkan anak-anak seusia 14 tahun-an sudah berani hidup tanpa
pendampingan orang tua, menjaga kesehatan sendiri, membangun motivasi belajar
sendiri, bahkan mengolah emosional-sosial dan spiritual sendiri.

 

 

Memang ada yang mengatakan
lebih baik bersama orang tua di rumah, namun di pesantren tak kalah lebih
banyak mengakui jauh lebih baik.

 

 

Sambil menunggu kegiatan
Literasi Al-Qur’an selesai, Pak Epul (panggilan Akrab, Red.) mengajukan argumen
bahwa, seberapapun nakalnya seorang yang ada di pesantren, mereka senantiasa
akan selalu mendapat pengaruh positif dari lingkungannya. Mayoritas santri
adalah anak bageur dan soleh. Dengan ini, anak yang memiliki kelainan
prilaku akan mudah mengikuti lingkungan sekitar untuk kemudian berubah menjadi
lebih baik.

 

 

Dari konteks ini, controling
seorang anak akan sangat mudah dilakukan dengan adanya lingkungan positif yang
mendukungnya. Namun, meski demikian, santri akan tetap dilatih bagaimana bisa memiliki
proteksi diri agar tidak terpengaruh. Dalam hal ini, Pak Epul menyarankan agar
anak selalu berjalan sesuai kode etik kesantriannya. Karena, mereka yang
senantiasa istiqomah dengan tugasnya tidak akan mudah dipengaruhi oleh
hal negatif di sekitarnya.

 

 

Hal yang paling
membanggakan adalah, budaya shalat di awal waktu, puasa sunnah bahkan santri
memiliki kepekaan sosial yang lebih. Selain itu, santri sangat diuntungkan
dengan lingkungannya mana kala ada pelajaran yang tidak difahami, ia akan
sangat mudah untuk mencari teman sebagai mitra belajar.

 

 

Doa setelah qiro’atul
qur’an
 dengan syahdu dilantunkan, santri bersiap dan kemudian bergegas
menuju depan kelas masing masing untuk melakukan ikrar santri. (Zawaya)

 

 

  • Asbid. Kurikulum dan guru mapel. Bahasa Arab,
    PAI dan Fiqih Sunnah asal Cugenang, Cianjur.

KOMENTARI TULISAN INI
TULISAN TERKAIT